Senin, 26 Maret 2012 - 17:45:45 WIB
Mengapa Terjadi Krisis Ekonomi?
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Ekonomi - Dibaca: 24289 kali

Krisis ekonomi, baik penyebab dan akibatnya, kerap bertali dengan pesta. Semua suka pesta, adakah yang tidak suka?  Malah ada penggila pesta. Ada bandar penggelar pesta yang diuntungkan oleh luapan suka selama pesta. Sebab pesta cenderung konsumtif.  Sesuka hati makan, minum, senyum, tawa, canda, goyang dan mabuk. Asyik lupa diri, lupa hidup, lupa mati, lupa keluarga, lupa tuhan.

Namun setiap pesta jelas mesti ada akhir. Tepatnya, saku dan waktu mengakhiri pesta. Ongkos pesta mesti dibayar. Malang bila pesta dibiayai utang. Harta tergadai, keluarga terabai.

Ketika bayang asap memudar (when the smoke is going down), penggila pesta yang masih fly di panggung bergumam, “This is the place where I belong/I really love to turn you on...”

Saya yakin ada pembaca yang bilang kayaknya gue kenal lagu ini…

Namun bandar dan penangih utang yang menggusurnya menyentak, “Hit the road Jack and don’t you come back no more, no more, no more, no more…

Hayoo, lagu siapa ini?

Cukup sudah dramatisasi. Kini lebih sistematis (dan matematis) memahami krisis.

Secara teoretis, krisis itu peristiwa memaksa kembali kepada keseimbangan. Dalam keadaan ideal, permintaan barang dan jasa sepadan dengan produksi.

Sekarang kita de-komposisi permintaan barang dan jasa berdasarkan aktor. Ada rumah tangga yang dianggap konsumptif (C). Perusahaan yang membeli barang untuk investasi (I). Ada juga pengeluaran pemerintah (G). Selain ketiga aktor domestik ini, ada juga permintaan dari luar negeri berupa ekspor (X).

Kita menulis permintaan total sebagai = C + I + G + X

Lalu bagaimana sisi penawaran produksi? Memang ada yang diproduksi di dalam negeri (Y) dan ada yang berasal dari luar negeri melalui impor (M).  Sehingga produksi total = Y + M

Dalam keadaan seimbang permintaan sama dengan produksi. Sehingga bisa ditulis:

Y + M = C + I + G + X

Keynes, mbah economist dari kampungnya Pangeran Charles (sebetulnya saya lebih suka Lady Di…), menulis persamaan diatas menjadi:

Y = C + I + G + (X-M)

Bagian terakhir pada bagian sebelah kanan persamaan menunjukkan neraca pembayaran dengan luar negeri.
Nilai (X-M) yang positif menunjukkan kita mengalami surplus neraca pembayaran yang pada dasarnya kita punya pendapatan yang bisa meningkatkan pundi-pundi cadangan devisa.

Demikian juga sebaliknya bila (X-M) negatif. Akibat impor melebihi ekspor, kita mesti bayar kepada pihak asing. Pundi-pundi kekayaan devisa berkurang, atau bahkan kita tambah utang.

Keynes kembali merombak rumus diatas menjadi:

(X - M) = (Y - A)

dimana A adalah gabungan C + I + G yang  menggambarkan total permintaan domestik.

Saya bisa memaklumi bila ada yang mulai pusing. Namun, bersabarlah. Ini rumus terakhir yang SANGAT membantu untuk memahami konstelasi kebijakan makroekonomi secara umum. Dan juga memahami mengapa terjadi krisis. Ayo, kuatkan fokus perhatian.

Seperti telah diulas (X-M) negatif yang berarti neraca pembayaran defisit, bertalian dengan produksi dalam negeri (Y) yang tidak memadai untuk memenuhi permintaan domestik (A). Nah, kondisi defisit ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Sebab ada keterbatasan untuk membiayai defisit, baik melalui penjualan asset (bahasa keren untuk privatisasi asset negara) dan berutang. Pemerintah mesti segera menempuh beragam kebijakan sebelum sumber pembiayaan defisit ludes.

Kebijakan tersebut pada dasarnya terdiri dari tiga kelompok.

  1. Upaya mengendalikan permintaan domestik (A) yang bisa dilakukan dengan menekan pengeluaran pemerintah (G), menaikkan pajak, atau menaikkan suku bunga agar peningkatan biaya modal ini mengerem konsumsi (C) dan investasi (I). Kebijakan ini kerap dikenal sebagai demand management yang cenderung berjangka pendek untuk stabilisasi.
  2.  

  3. Upaya menggenjot produksi domestik (Y). Ini kerap dikenal sebagai structural policy. Sebab yang mesti dirombak kerap terkait faktor struktural, seperti mengembangkan institusi yang bermanfaat mendorong pertumbuhan dan membabat institusi yang menghambat. Misalnya deregulasi dan debirokratisasi. Atau juga mempercepat penyediaan infrastruktur dan teknologi untuk mendorong produksi. Ataumendorong proses produksi. Bagaimana rendang padang bisa selalu ayam goreng KFC dan burger McD? Bagaimana film Indonesia bisa berjaya di layar perak domestik sekaligus bisa diekspor. Bagaimana sepatu Indonesia bisa bersaing dengan buatan China. Bagaimana anak bangsa tidak lagi berselisih masalah SARA, bikin pabrik tanpa diusik. Polisi dan politisi tidak memeras minta komisi. Pejabatmemegang amanah, bukan berlomba mengangkangi ghonimah (Red: ini pampasan perang,  bukan nama pembantu anda di rumah).
  4.  

  5. Kebijakan nilai tukar agar rupiah lebih kompetitif buat memacu ekspor yang lebih pesat ketimbang ekspor, namun tanpa memicu inflasi. Ketika krisis keuangan global 2008 merebak, China melakukan upaya mencegah penguatan yuan selama tahun 2009 untuk mencegah penguatan itu mengancam ekspor. China melalukannya dengan intervensi beli arus modal asing yang masuk. Memang ini membuat cadangan devisa melonjak, hingga melebihi US$3 triliun (bayangkan kita hanya pada kisaran $100 miliar). Namun kungfu China seperti itu juga langsung menyebabkan lonjakan uang beredar di dalam negeri sehingga memicu inflasi. Itu sebabnya selama tahun 2010 pemerintah China sangat agresif melakukan pengetatan likuiditas.

Nah dalam praktek, pelaksanaan ketiga kebijakan diatas tidak gampang. Banyak pemerintah, apalagi yang menganut sistem politik demokrasi, ternyata cenderung populer: enggan menaikkan pajak dan malas mengerem konsumsi pemerintah. Takut tak terpilih lagi? Kelihatannya seperti itu. Akibatnya jelas: pembiayaan pembangunan ditopang dengan berutang. Lambat laun utang mengunung. Sadar terlambat. Segan balik badan.

Tengok Tabel berikut yang menunjukkan posisi utang, sentiment risiko atas kebangkrutan (CDS, credit default swap), peringkat, dan beban utang relatif terhdap pendapatan (Debt/GDP). Terlihat Yunani dengan utang $447 miliar dollar atau setara 143% GDP. Kalau anda memiliki utang Yunani, investor baru mau membelinya setelah didiscount 78%. Tidak heran bila peringkatnya anjlok dibawah standar investasi.


4693 Komentar :

Obat Maag
15 Mei 2013 - 11:25:00 WIB

situs yang banyak bermanfaat bagi para komunitasnya, tetap berkarya dan sukses!
Obat Alami Jelly Gamat
15 Mei 2013 - 11:35:14 WIB

thanks atas info yang telah diberikan pasti bermanfaat dan berguna banget bagi saya.
thnks yah gan
Cara Pemesanan Jelly Gamat
15 Mei 2013 - 11:45:24 WIB

terimakasih. tambah terus artikelnya pak admin, agar masyarakat bisa mendapatkan tutorial yg lengkap

khasiat kulit manggis
15 Mei 2013 - 14:54:50 WIB

bikin lebih pariatif lagi dong gan ,,,,,,
jelly gamat
16 Mei 2013 - 10:21:42 WIB

makasih atas infonya
obat tradisional maag kronis
17 Mei 2013 - 09:37:30 WIB

oke terima kasih infonya
obat asam urat
17 Mei 2013 - 10:27:19 WIB

makasih atas informasinya
obat epilepsi
17 Mei 2013 - 10:33:31 WIB

pagi menuju siang
obat asma
17 Mei 2013 - 10:38:41 WIB

moga tambah sukses selalu
obat maag kronis tradisional
17 Mei 2013 - 10:42:14 WIB

tambah sukses seallu ya
<< First | < Prev | ... 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | ... | 470 | Next > | Last >>
Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)